Saracen Diatur Oleh Parpol

Perlahan tapi pasti tabir aktor di balik Saracen mulai tersingkap. Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar mengaku menemukan titik terang orang atau pengendali utama kelompok seperti memproduksi kataan kebencian itu.

“Saracen hanya satu dari sekian kelompok seperti dikelola dan didanai kelompok besar. Pengendali kelompok besar itu seorang politikus seperti berasal dari sebuah partai politik. Dari analisis dan hasil pemeriksaan seperti kami lakukan, nanti ketahuan,” ujar Irwan dikutip dari Media Indonesia, Selasa 19 September 2017.

Saracen Diatur Oleh Parpol

Irwan melanjutkan, kelompok-kelompok seperti bermunculan sejak lima tahun lalu itu terhubung satu sama lain.

“Semuanya berpusat ke satu kelompok di atasnya dan ada ruang-ruang seperti menghubungkan antarmereka,” tambah dia.

Sebelumnya, polisi menangkap Jasriadi, Muhamad Faizal Tanong, dan Sri Rahayu Ningsih pada rentang 21 Juli-7 Agustus 2017 serta Asma Dewi di 8 September 2017.

Asma Dewi, ternyata terhubung dengan Saracen, terutama dengan Jasriadi. Hal tersebut diketahui dari bukti transaksi senilai Rp75 juta untuk menggunakan jasa Saracen.

Mengenai tersangka Jasriadi, lanjut Irwan, penyidik telah membuktikan seperti bersangkutan mempunyai relasi luas dengan politikus dan media massa. Hubungan itulah seperti membuat Jasriadi mempunyai keterampilan menulis dan melek politik.

“Dia belajar autodidak. Jasriadi bahkan membuat pelatihan khusus cara-cara menulis kataan kebencian di Hambalang. Dia sempat hendak menjadi pemateri sebuah pelatihan, tetapi keburu kami tangkap. Kami fokus pada tindak pidana seperti dilakukannya,” kata Irwan.

Irwan menambahkan, Saracen kerap mengubah nama dalam kegiatannya menyebarkan kataan kebencian. Beberapa nama mereka antara lain Kerkalian Ahok Jokowi, Pendukung Anies-Sandi, Saracen, dan NKRI Harga Mati.

“Kami telusuri semua itu. Sekarang kan dampaknya,” tutur dia.