Samudera Pasifik Menjadi Tempat Stasiun Luar Angkasa Tiangong-1 Terjatuh

Stasiun luar angkasa Tiongkok yang jatuh ke Bumi — Tiangong-1 — akhirnya menembus atmosfer dan mendarat di selatan dari Samudera Pasifik. Pesawat tersebut masuk ke atmosfer Bumi pada 1 April pukul 20.16 ET atau 2 April pukul 08.16 WIB, menurut US Strategic Command.

Samudera Pasifik Menjadi Tempat Stasiun Luar Angkasa Tiangong-1 Terjatuh

Kejadian ini menandai akhir dari stasiun luar angkasa Tiongkok yang telah ada di orbit selama tujuh tahun. Untungnya, ketika jatuh, ia tidak jatuh di tempat yang ditinggali oleh manusia.

Seperti yang disebutkan The Verge, menentukan dimana Tiangong-1 akan jatuh bukanlah hal yang mudah.

Stasiun luar angkasa ini berada di orbit rendah Bumi dengan keecpatan 17 ribu mil per jam. Jika waktu perkiraan jatuh meleset satu jam saja, maka tempat pendaratan akan meleset sejauh 17 ribu mil dari titik perkiraan.

Tiangong-1 tidak hanya berat, tapi juga padat. Para ahli memperkirakan, akan ada puing dari pesawat itu yang tetap cukup besar bahkan setelah melewati atmosfer. Namun, kecil kemungkinan bagian sisa dari Tiangong-1 akan menimpa tempat yang ditinggali.

Sebagian besar dari Bumi terdiri dari lautan. Selain itu, sebagian besar daratan di Bumi tidak ditinggali oleh manusia. Karena itu, kecil kemungkinan puing-puing dari Tiangong-1 akan menimpa kawasan yang ditinggali.

Diluncurkan pada 2011, Tiangong-1 — yang berarti “Tempat Surgawi” — adalah stasiun luar angkasa pertama dari Tiongkok. Dua kelompok astronaut mengunjungi pesawat itu ketika ia ada di orbit. Dalam salah satu kelompok itu, ada astronaut wanita pertama dari Tiongkok.

Stasiun luar angkasa ini dibuat hanya untuk bertahan selama dua tahun di luar angkasa. Pada awalnya, pemerintah Tiongkok berencana menyalakan mesin Tiangong-1, mendorongnya keluar dari orbit sehingga ia bisa mendarat di lautan dengan aman. Setelah itu, penerusnya — Tiangong-2 — akan mengambil posisinya sebagai habitat utama dari astronot Tiongkok.

Namun, pemerintah Tiongkok pada akhirnya memperpanjang waktu Tiangong-1 di orbit. Mungkin sebagai rencana cadangan jika Tiangong-2 tidak selesai dibuat tepat waktu.

Pada 2016, badan luar angkasa Tiongkok memberitahukan PBB bahwa mereka telah kehilangan kendali atas Tiangong-1. Itu artinya, pemerintah Tiongkok tidak lagi bisa mengirimkan perintah pada Tiangong-1 di orbit.

Dengan jatuhnya Tiangong-1, ini mengakhiri kekhawatiran tentang stasiun luar angkasa tersebut.