Pendapatan Alphabet Bertumbuh Selama Q4 2017

Alphabet, induk perusahaan Google, menutup kuartal terakhir tahun 2017 dengan pendapatan sebesar USD32,3 miliar (Rp432,8 triliun), dengan harga per saham mencapai USD9,70 (Rp130.368) per lembar.

Pendapatan Alphabet Bertumbuh Selama Q4 2017

Analis yang disurvei Thomson Reuters memprediksikan pendapata Alphabet mencapai USD31,87 miliar (Rp428,3 triliun), dengan harga saham sebesar USD9,98 (Rp134.131).

Pendapatan tersebut meningkat dari periode yang sama tahun 2016, saat Google melaporkan pendapatan total hampir sebesar USD26,1 miliar, dan harga saham sebesar USD9,36 (Rp125.798).

Sementara itu, pendapatan periklanan Google bertumbuh sebesar 21,55 persen dari USD22,4 miliar (Rp300,9 triliun) selama kuartal terakhir 2016 menjadi USD27,28 miliar (Rp366,5 triliun) selama periode yang sama pada tahun 2017. Hal ini menasbihkan periklanan sebagai kontributor pendapatan terbesar Google, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pendapatan Alphabet lain dilaporkan berasal dari proyek lainnya, termasuk anak perusahaan di bidang mobil nirsopir, Waymo, dan lengan biotech Calico, yang mengalami peningkatan menjadi USD409 juta (Rp5,5 miliar) selama kuartal keempat 2017. Pendapatan ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 yaitu sebesar USD262 juta (Rp3,5 miliar).

Kerugian operasional berasal dari proyek lain yang mengalami kemunduran selama beberapa tahun terakhir, dari hampir USD1,1 miliar (Rp14,8 miliar) menjadi USD916 juta (Rp12,3 miliar).

Chief Financial Officer Alphabet Ruth Porat menyebut pertumbuhan pendapatan Google Cloud juga didorong oleh kesiapan perusahaan.

Selain itu, pertumbuhan ini juga berkat performa tim pemasaran dan penjualan yang dinilai siaga dalam menyuguhkan penawaran mereka kepada pelanggan.

Seperti perusahaan lain, Alphabet melakukan perubahan besar pada akhir tahun 2017, dengan mengembalikan keuntungan ke Amerika Serikat, sesuai dengan kode pajak korporasi baru.

Untuk alasan tersebut, Alphabet mengalami kerugian sedikit lebih dari USD3 miliar (Rp40,2 triliun), menurut prinsip akuntasi yang berlaku secara umum.

Sementara itu, investor Wall Street dilaporkan tidak senang dengan hasil Google yang relatif sama dengan prediksi, menyebabkan nilai saham mengalami penurunan lebih dari 3 persen.