Pembangunan PLTPB di Gunung Slamet Telah Mencemari Lingkungan

Para pemuda asal Gunung Slamet, Jawa Tengah, menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) saat car free day (CFD). Mereka menuding pembangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) di gunung itu merusak lingkungan.

“Air sungai berubah keruh, babi dan kera turun ke permukiman, terjadi banjir besar karena banyak pohon ditebangi. Ini adalah dampak proses pembangunan PLTB di Gunung Slamet,” kata koordinator lapangan Faisal di lokasi, Minggu, 24 Desember 2017.

Mereka menuntut PT Sejahtera Alam Energy (PT SAE) selaku operator pembangunan pembangkit hengkang dari Gunung Slamet. Sejak awal dibangun pada November 2016 hingga Maret 2017, air sumber pengairan di sana tercemar. Dampaknya juga sangat luas.

Desa Sambirata, Karang Tengah, Gunung Lurah, Panembangan, dan Kalisari tak bisa mendapat air bersih. Masyarakat di sana yang mayoritas perajin tahu juga kesulitan.

“Kegiatan ekonomi terhambat, bahkan ada yang berhenti total. Karena memang mayoritas di desa itu kegiatan ekonominya bergantung pada air bersih,” imbuh Faisal.

PT SAE telah melanggar Pasal 18 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Dalam regulasi itu diatur bagaimana daerah aliran sungai atau DAS harus dilindungi oleh luas kawasan hutan yang cukup. Menebang dan mengurangi kawasan hutan termasuk pelanggaran.

Selain melanggar aturan, PT SAE juga tak melibatkan masyarakat dalam menentukan pembangunan. Mereka hanya menyosialisasikan sementara masyarakat di daerah itu yang harus menerima dampak buruk pembangunan.

“Maka dari itu kami pemuda rantau dari 5 kabupaten, Banyumas, Tegal, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Pemalang, ikut berjuang bersama rakyat,” sebut Faisal.