Narkoba Banyak Masuk via Laut Sumatera

Jalur perairan Sumatera menjadi pintu masuk utama penyelundupan narkoba. Saat ini, sindikat Tiongkok-Malaysia-Aceh yang melintas di jalur itu mendominasi peredaran narkoba di Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Eko Daniyanto saat mengungkap kasus penyelundupan 38 kilogram sabu sindikat Aceh-Malaysia di kantornya, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, kemarin.

“Sekarang yang kami analisis terbanyak produk dari Penang Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Tiongkok yang masuk ke Malaysia. Kemudian diambil melalui garis pantai Sumatra itu Aceh. Inilah sekarang yang bermain sindikat Aceh,” tambah Eko

Menurut Eko, misalnya dalam sindikat yang baru digagalkan pihaknya bersama Ditjen Bea dan Cukai, empat tersangka ternyata sudah enam kali menyelundupkan barang haram itu.

Indonesia, kata Eko, dibombardir sindikat itu melalui jalur tersebut. Karena itu, pihaknya akan mempertanyakan ke kepolisian Malaysia mengapa narkoba begitu mudahnya masuk melalui Malaysia ke Indonesia.

Apalagi, salah satu tersangka, BD, 60, nakhoda kapal yang mengangkut sabu itu, tidak memiliki paspor.

“Nanti kami melaksanakan koordinasi dengan JSJN (Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik) Malaysia pada November di Lombok, NTB. Akan kami tanyakan itu kenapa mudah sekali narkoba masuk melalui Malaysia,” tukas Eko.

Sementara itu, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menembak mati YLS, pelaku penyelundupan 386 kilogram ganja sindikat Aceh.

Hal itu dilakukan lantaran ia melawan saat diminta menunjukkan jaringannya atas tangkapan narkoba di Tol Merak arah Jakarta pada Jumat 13 Oktober 2017.

Polisi pun menetapkan tiga tersangka lain, yaitu S, 45, SR, 41, dan GS, 52.

Sebelum menemukan truk pembawa 347,761 kg ganja yang dikendarai S alias Agam di Tol Merak arah Jakarta, polisi terlebih dahulu menangkap tersangka SR dan GS dalam mobil Calya putih di tol tersebut.

Di dalam mobil itu ditemukan dua karung plastik ganja kering seberat 38,512 kg. Total ada sebanyak 386.273 gram ganja yang disita polisi dalam kasus tersebut.

Sebagai sopir truk pengangkut 386 kg ganja, S dijanjikan upah Rp80 juta.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono, kasus itu merupakan jaringan Aceh-Jakarta.

“Ganja dibawa dari Aceh ke Jakarta dan disimpan di dalam bak truk yang sudah dimodifikasi,” kata Argo.