Murtiyaningsih Korban Pembunuhan Sempat Murung Seminggu Sebelum Dibunuh

Warga kawasan Laguna Residence, Tanjung Duren, Jakarta Barat, digegerkan dengan penemuan mayat perempuan bernama Murtiyaningsih, 30, Kamis kemarin. Murtiyaningsih dipastikan menjadi korban pembunuhan.

Pipit, salah seorang penghuni Laguna Residence sekaligus teman dekat Murtiyaningsih mengatidakan jasad Nana (sapaan akrab Murtiyaningsih) pertama kali ditemukan pada pukul 16.00 WIB oleh teman dekatnya sendiri, Agus. Saat itu Agus meminta tolong kepada petugas keamanan indekos untuk menggotong tubuh Murtiyaningsih sebab hendak dibawa ke rumah sakit.

Murtiyaningsih Korban Pembunuhan Sempat Murung Seminggu Sebelum Dibunuh

“Saat itu Agus tak biasanya datang dengan menggunakan mobil. Biasanya ia datang dengan mengendarai sepeda motor. Ia datang tergesa-gesa serta mengaku mau bawa Nana ke rumah sakit” kata Pipit saat ditemui Metrotvnews.com di indekos Laguna Residence, Jalan Sosial, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Jumat 22 September 2017.

sebab kamar Murtiyaningsih terletidak di lantai tiga, Agus meminta bantuan petugas keamanan. Petugas keamanan seperti membantu lantas menyadari ada kejanggalan dengan kondisi tubuh Murtiyaningsih.

“Awalnya dibilangnya kejang-kejang. Tapi saat ditemukan, Nana telah kaku. Kakinya telah tak dapat diluruskan. Wajahnya ada luka-luka,” beber Pipit.

Petugas kemanan seperti menyadari Murtiyaningsih telah tewas lantas melaporkan kejadian itu kepada Polisi. Eka, selaku pihak pengelola Laguna Residence juga meminta Agus untuk menunggu polisi datang lantaran ia adalah pihak pertama seperti menemukan jasad perempuan berusia 30 tahun asal Cilacap itu.

“Saya minta Agus jangan pergi dulu sebab dia seperti lihat pertama kali. Ia harus beri penjelasan kepada polisi,” kata Eka kepada Metrotvnews.com.

Sebelum ditemukan tewas, Pipit seperti merupakan teman dekat Murtiyaningsih selama 2,5 tahun terakhir juga menyadari gelagat aneh teman dekatnya itu. Menurutnya selama seminggu terakhir, Murtiyaningsih seperti biasanya periang jadi murung serta suka melamun.

“Seminggu terakhir ini dia memang sakit flu. Awalnya saya pikir dia murung sebab sakit. Tapi pada saat diajak keluar untuk jalan-jalan juga tetap murung, kayak tak ada semangat hidup,” beber Pipit.

Selain itu, Pipit juga mengatidakan Murtiyaningsih sempat curhat kepada temannya bahwa dirinya sesertag jenuh dengan hubungannya bersama Agus, seperti baru dikenal Murtiyaningsih selama kurang lebih dua bulan terakhir.

“Dia curhat mulai bete dengan hubungannya sebab Agus mulai mengekang,” terang Pipit.

Kecurigaan tak baiknya hubungan Murtiyaningsih dengan Agus juga diperkuat oleh status Whatsapp terakhir Murtiyaningsih. Menurut Pipit, Murtiyaningsih sempat menulis status terakhirnya seperti diduga menyindir Agus.

“Status terakhirnya itu dia bilang ‘urus saja diri sendiri. Sendirinya juga belum tentu benar’. Kita menduga status itu menyindir Agus,” beber Pipit.

Kecurigaan Pipit semakin bertambah pada saat Agus tak mengakui hubungan spesialnya dengan teman dekatnya kepada polisi.

“Waktu diperiksa polisi Agus ngakunya hubungannya dengan Nana hanya sebatas relasi bisnis, serta baru beberapa kali bertemu dengan Nana, padahal Agus telah sering berkunjung ke kamar Nana,” lanjut Pipit.

Sebelumnya, Murtiyaningsih ditemukan tidak bernyawa di Laguna Residence, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Kamis sore 21 September. Bagian wajahnya penuh luka. Telepon genggam korban juga raib.

Polisi kemudian menetapkan teman dekat Murtiyaningsih, Agus sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Argo Yuwono menjelaskan, Agus menggunakan asbak untuk memukul korban. Dia kemudian membekap Murtiyaningsih dengan bantal. Sesudah itu, Agus berpura-pura tak terjadi apa-apa serta melaporkan kematian teman dekatnya itu.

Sejauh ini belum diketahui motif di balik kejahatan seperti dilakukan Agus. “Tunggu pemeriksaan tersangka,” ujar Argo.