KKB Sempat Tingkatkan Intensitas Penembakan saat Warga Dievakuasi

Aparat TNI dan Polri berhasil mengevakuasi 344 warga yang sebelumnya disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Proses penyanderaan terjadi sejak awal November 2017.

Selama ini, ratusan warga yang disandera melakukan aktivitas sebagai pengumpul atau pembeli emas. Sementara ada juga warga yang membuka warung atau kios kelontong.

Pada saat proses evakuasi, Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengaku satgas sempat mendapat perlawanan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang terus melakukan penembakan dari ketinggian. Hal tersebut menyulitkan aparat untuk balas menyerang.

Apalagi, jalan yang melintas ke kampung Banti sudah dirusak. Hal itu pun menyulitkan proses evakuasi warga, terlebih kondisinya sempat merisaukan akibat kekurangan makanan.

“Warga sempat kekurangan pangan akibat KKB melarang mereka beraktifitas sehingga hanya bisa makan seadanya dengan menghabiskan isi warung yang tidak diambil KKB,” kata Boy Rafli seperti dilansir dari Antara, Sabtu, 18 November 2017.

Saat evakuasi, lanjut Boy Rafli, warga juga harus berjalan sekitar empat jam hingga tiba di sekitar Mapolsek Tembagapura. Sebanyak 344 warga termasuk 24 diantaranya anak-anak, kini sudah berada di penampungan, Timika sebelum dikembalikan ke keluarga.

Boy Rafli mengukapkan, kondisi alam jadi penghalang utama menangkap pelaku teror bersenjata yang beroperasi di sekitar Tembagapura. Bahkan cuaca terkadang sangat ekstrem, sementara KKB lebih menguasai medan dan terus melakukan penyerangan.

Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI George Supit menjelaskan pihaknya telah mengerahkan satu kompi prajurit dalam proses evakuasi dan penyelamatan warga dari tangan KKB di Papua.

“Kodam XVII memperbantukan satu kompi prajuritnya untuk bergabung dengan Satgas untuk mengejar kelompok bersenjata yang seringkali menganggu warga sipil dan aparat keamanan di wilayah operasional PT Freeport,” kata George Supit.

Mayjen Supit menambahkan, TNI akan terus membantu Polri dalam mengamankan wilayah Papua dari gangguan kelompok sipil bersenjata. Status Papua sama dengan daerah lainnya di Indonesia, yakni tertib sipil sehingga penanganan gangguan tetap mengedepankan polisi.

“Walaupun warga yang disandera sudah berhasil dievakuasi, pengamanan di kawasan Tembagapura dan sekitarnya tetap dilakukan,” tutup Mayjen Supit.